Kebijakan Manajemen Risiko

Home / GCG / Kebijakan Manajemen Risiko

I. Klasifikasi, Tujuan dan Ruang Lingkup

 

1.    Klasifikasi Risiko

a.    Risiko strategi Bisnis, yang meliputi antara lain : Risiko persaingan bisnis, risiko ketersediaan lahan, risiko bibit buruk, risiko gagal panen, risiko pabrik tua, risiko kerugian anak Perusahaan, risiko kerugian kerja sama strategis, risiko penugasan dari Pemerintah, risiko kegagalan marketing, serta risiko yang timbul dari dampak adanya kebijakan/regulasi.

b.    Risiko operasional, meliputi antara lain : Risiko penurunan penjualan, risiko biaya operasi tinggi, risiko pemasaran yang tidak tepat, risiko kehandalan peralatan dan teknologi, risiko kesalahan proses, risiko ketidakjelasan pembagian tugas, risiko ketidakpatuhan pada prosedur, risiko pemogokan kerja dan SDM, risiko perubahan situasi sosial, politik dan keamanan.

c.     Risiko keuangan, yang meliputi antara lain : Risiko investasi, risiko efisiensi biaya produksi (inefisiensi), risiko hutang yang tinggi, risiko cashflow negatif, risiko dana terbatas, risiko transaksi mata uang asing, risiko perubahan nilai suku bunga, risiko tidak tertagihnya piutang dan risiko dari adanya regulasi keuangan dari Pemerintah.

2.    Tujuan Manajemen Risiko

a.    Bahan pengambilan keputusan Direksi dalam upaya melanjutkan usaha Perusahaan;

b.    Meminimalisasi risiko kerugian.

3.    Ruang Lingkup Manajemen Risiko

a.    Mengidentifikasi potensi risiko internal pada setiap fungsi/unit dan potensi risiko eksternal yang dapat mempengaruhi kinerja Perusahaan;

b.    Mengembangkan strategi penanganan pengelolaan risiko;

c.     Mengimplementasikan program-program pengelolaan untuk mengurangi risiko;

d.    Mengevaluasi keberhasilan manajemen risiko.

4.    Manfaat Manajemen Risiko

Manfaat manajemen risiko adalah memperkecil dampak kerugian dari ketidakpastian dalam usaha.

 

II. Kebijakan Umum

1.    PT PG Rajawali II memandang perlu seluruh fungsi-fungsi manajemen malaksanakan pengelolaan risiko di masing-masing unit organisasi, termasuk risiko yang dihadapi organisasi/Perusahaan dan Pemangku Kepentingan lainnya.

2.    Dalam menetapkan arah bisnis, PT PG Rajawali II harus mempertimbangkan faktor-faktor risiko yang berpotensi merugikan Perusahaan dengan lebih dahulu menganalisa risikonya.

3.    Pengelolaan risiko merupakan suatu keharusan bagi setiap pimpinan organisasi sebelum mengambil suatu keputusan ditingkat puncak maupun menengah.

 

III. Unsur-Unsur Terkait

1.    Direksi dan seluruh Pekerja bertanggung jawab menggunakan pendekatan manajemen risiko dalam melakukan kegiatannya sesuai dengan batas kewenangan dan uraian tugas (job description) masing-masing.

2.    Organ yang bertanggung jawab di bidang manajemen risiko adalah :

a.    Dewan Komisaris.

b.    Direksi.

c.     Fungsi Pemantauan Manajemen Risiko.

d.    Satuan Pengawasan Intern (SPI).

3.    Dewan Komisaris dan Direksi bertanggung jawab menetapkan tingkat risiko yang dipandang wajar.

4.    Dewan Komisaris bertanggung jawab untuk :

a.    Memonitor risiko-risiko penting yang dihadapi Perusahaan dan memberi saran mengenai perumusan kebijakan di bidang manajemen risiko.

b.    Melakukan pengawasan penerapan manajemen risiko dan memberikan arahan kepada Direksi.

c.     Memastikan bahwa penyusunan RJPP dan RKAP telah memperhatikan aspek manajemen risiko.

d.    Melakukan kajian berkala atas efektivitas sistem manajemen risiko dan melaporkannya kepada Pemegang Saham/RUPS.

5.    Direksi bertanggung jawab untuk :

a.    Menjalankan proses manajemen risiko di fungsi-fungsi terkait (risk owners).

b.    Melaporkan kepada Dewan Komisaris tentang risiko-risiko yang dihadapi dan ditangani.

c.     Menyempurnakan sistem manajemen risiko.

6.    Fungsi Pemantauan Manajemen Risiko bertanggung jawab untuk :

a.    Merumuskan sistem manajemen risiko,

b.    Merumuskan kebijakan pokok yang berhubungan dengan manajemen risiko.

c.     Mengidentifikasi dan menangani risiko-risiko serta membuat pemetaan risiko.

d.    Mengimplementasikan dan mengupayakan penerapan manajemen risiko yang efektif dalam batas-batas tanggung jawab dan kewenangannya.

e.    Memantau dan mengevaluasi perkembangan risiko dan melaporkannya kepada Direksi .

7.    Satuan Pengawasan Intern (SPI) bertanggung jawab untuk :

a.    Memastikan bahwa kebijakan dan sistem manajemen risiko telah diterapkan dan dievaluasi secara berkala.

b.    Mengevaluasi dan memberikan masukan atas kecukupan dan efektivitas pengendalian intern dalam rangka mitigasi risiko.

c.     Mengevaluasi dan memberi masukan mengenai kesesuaian strategi dengan kebijakan manajemen risiko.

 

IV. Proses Manajemen Resiko

1.    Komunikasi dan Konsultasi

Komunikasi dan konsultasi dilakukan oleh setiap Penanggung Jawab Risiko (Risk Owner) terhadap para pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal pada setiap tahap proses pengelolaan risiko dengan tujuan agar mereka dapat memahami keterkaitan rencana strategis Perusahaan dengan pengelolaan risiko dan peran mereka dalam pengelolaan risiko Perusahaan.

Lingkup materi yang harus dikomunikasikan dan dikonsultasikan meliputi :

-     Maksud dan tujuan, alasan penerapan manajemen risiko, elemen-elemen yang terdiri dari : prinsip, kerangka kerja, dan proses manajemen risiko Perusahaan.

-     Istilah dan terminologi risiko serta ukuran-ukuran dalam manajemen risiko.

-     Kriteria, toleransi risiko (risk tolerance), dan selera risiko (risk apetite) yang ditetapkan Perusahaan.

-     Risiko-risiko strategis yang berdampak berbahaya bagi kelangsungan hidup Perusahaan.

-     Akuntabilitas dari setiap Pihak yang terlibat dan berkepentingan dengan pengelolaan risiko, baik internal maupun eksternal.

2.    Menentukan Konteks

Penentuan konteks adalah penentuan parameter-parameter yang relevan dengan Perusahaan, baik internal maupun eksternal yang digunakan dalam pengelolaan risiko terutama dalam rangka menetapkan ruang lingkup dan kriteria risiko.

Parameter yang ditetapkan harus sesuai dengan kerangka kerja pengelolaan risiko (risk management framework) yang telah ditetapkan.

3.    Asesmen risiko (Risk Assessment)

Tujuan asesmen adalah mengenali risiko, tingkat kegawatan risiko dan prioritas penanganan risiko. Proses asesmen terdiri dari : Identifikasi risiko, analisis risiko dan evaluasi risiko.

4.    Penanganan risiko (Risk Treatment)

Tujuan proses penanganan risiko adalah menyeleksi alternatif metode atau teknik yang digunakan untuk mengurangi tingkat kegawatan risiko yang teridentifikasi.

Strategi penanganan risiko adalah :

-     Menerima risiko yaitu mempertahankan kondisi dan memonitor perubahan risiko tersebut.

-     Mitigasi yaitu menggunakan metode tertentu untuk menurunkan nilai kemungkinan.

-     Berbagi risiko yaitu membagi beban penanganan risiko dengan pihak lain untuk mengurangi tingkat kegawatan risiko.

-     Menghindari risiko artinya membatalkan program yang mengandung risiko.

5.    Pemantauan dan Kaji Ulang (Monitoring & review)

Pemantauan adalah monitoring rutin terhadap kinerja aktual dari pelaksanaan proses manajemen risiko dibandingkan dengan rencana yang ditetapkan.

Kaji Ulang adalah peninjauan berkala terhadap efektifitas sistem manajemen risiko yang diberlakukan dan efektifitas pelaksanaan penanganan risiko guna perbaikan secara terus menerus.